5 Agustus 2021

Nvdemscaucus Kumpulan Resep Makanan Tradisional dan Modern

Kumpulan resep makanan terbaru dan terlengkap dari tradisional sampai modern di Indonesia serta manca negara

Cara Seru Ajarkan Anak Membaca Pertama Kali

Setiap orang tua pastinya sangat senang bila anak punya kemampuan baru yang dikuasainya. Salah satu perkembangan anak yang mungkin ditunggu-tunggu adalah kemampuan membacanya.

Ya Moms, seiring berjalannya waktu, Anda mungkin tak perlu lagi membacakan buku untuk si kecil, karena mereka sudah bisa membaca sendiri. Namun, perlu diingat bahwa tahap perkembangan anak berbeda-beda. Jadi, tak perlu cemas apabila ada anak lain yang sudah bisa membaca, sementara anak Anda belum. Yang paling penting, pastikan saja tahap perkembangan si kecil masih sesuai dengan usianya.
 
Lantas, di usia berapa anak seharusnya bisa membaca?

Usia Anak Bisa Membaca

Dalam acara Live Talk Instagram bertema ‘Berlatih Membaca yang Mengasyikkan’ yang diadakan oleh Bacapibo dan Guru Bumi, Praktisi Pendidikan Anak sekaligus penulis buku Seri Guru Bumi Level 1, Nouf Zahrah Anastasia mengatakan, sampai saat ini sebenarnya tidak ada penelitian yang secara spesifik menunjukkan usia pasti anak bisa belajar membaca. Sebab, kemampuan itu bervariasi pada setiap anak.

“Misalnya, beberapa anak mulai membaca pada usia 5-6 tahun. Beberapa anak lainnya sudah mulai menunjukkan ketertarikan pada buku dan gambar sejak dini pada usia 3-4 tahun. Tapi, ada juga anak yang baru tertarik membaca di usia yang cukup besar, yakni usia 7 tahun,” kata Praktisi Pendidikan Anak yang akrab disapa Bu Taysa itu.
 
Menurutnya, tidak ada jawaban pasti kapan anak harus belajar membaca. Yang terpenting, sebagai orang tua, Anda harus memerhatikan sejauh mana anak tertarik dengan bacaan, kemudian baru bisa mengenalkannya.
 
Perlu diingat bahwa memperkenalkan anak dengan huruf dan membaca harus dilakukan dengan cara yang ramah. Sehingga, si kecil tidak merasa hal itu adalah sebuah beban atau keharusan, tapi suatu aktivitas yang menyenangkan.

Melatih anak membaca harus dilakukan dengan sabar, Moms. Sebab, tak semua anak mempunyai kemampuan untuk menangkap secara cepat. Apalagi, jika mereka baru belajar membaca pertama kalinya. Untuk itu, Tasya memberikan tips bagaimana tahapan memperkenalkan kegiatan membaca kepada anak.

Kenalkan Anak dengan Membaca Menggunakan Bunyi Huruf

Salah satu hal yang perlu dilakukan saat ingin mengajarkan anak membaca adalah dengan mulai mengenalkannya pada huruf.
 
“Memperkenalkan anak langsung kepada abjad ABCD menurut saya sah-sah saja selama mereka bisa menangkap dan merespon dengan baik. Namun, saya biasanya menggunakan metode fonem atau bunyi huruf untuk memperkenalkan anak dengan membaca,” kata Tasya.
 
Menurut Tasya, setiap kata mempunyai bunyinya masing-masing. Memperkenalkan bunyi setiap huruf kepada anak bisa menjadi metode yang mudah diserap oleh mereka. Misalnya dari kata ‘buku’ terdapat beberapa bunyi yang bisa dipelajari seperti ‘bu’ ‘uk’ dan ‘ku’. Kemudian, per hurufnya juga mempunyai bunyi sendiri, misalnya pada huruf ‘b’ terdapat bunyi ‘beh’ dan huruf ‘k’ terdapat bunyi ‘keh’.

Tentunya, Anda tidak bisa langsung mengenalkan bunyi dari 26 huruf kepada anak-anak. Anda bisa mulai dengan mengajarkan 3 bunyi huruf per harinya sebagai tahap awal. Kemudian, tambahkan frekuensi bunyi huruf setiap harinya, misalnya 5 atau 10 per hari, tergantung pada kemampuan tangkap anak.
 
Setelah mereka paham dengan bunyi masing-masing huruf, tahap selanjutnya adalah menggabungkan bunyi-bunyi tersebut. Misalnya dari kata ‘buku’ gabungkan bunyi huruf ‘b’ dan ‘u’ seperti ‘beh’ dan ‘u’ menjadi ‘bu’. Nah Moms, setelah itu Anda bisa melanjutkan dengan menambah 2 sampai 3 suku kata.
 
Hal yang paling penting dalam mengenalkan kegiatan membaca kepada anak adalah dilakukan secara bertahap. Jangan menambahkan sesuatu yang belum mereka kuasai, seperti bentuk kalimat langsung. Perkenalkanlah anak dengan berbagai bentuk kata, bukan kalimat. Sebab, memberikan bunyi kalimat kepada mereka yang belum mampu, terkadang akan menimbulkan rasa frustasi. Hal itulah yang akhirnya membuat anak-anak sering kali menolak belajar membaca buku.